Kalau anda pernah baca buku berjudul Images of Organization, tulisan Gareth Morgan, saya yakin bahwa anda akan mempunyai paradigma lain dalam melihat organisasi, tidak hanya sebagai struktur kotak-kotak dengan garis lapor dan garis perintah saja.
Begitu uniknya buku ini, sehingga akan saya pakai sebagai acuan dalam tulisan-tulisan Wacana SDM berikutnya.
Dalam salah satu metafor mengenai organisasi yang dikemukakan Morgan dalam buku tersebut adalah melihat organisasi sebagai organisme/makhluk hidup. Lengkap dengan kelahiran, pertumbuhan, adaptasi dan kematiannya, dan kemudian saya menambahkan bagaimana refleks dan intuisi makhluk hidup juga berlaku pada suatu organisasi.
Karena itulah kemudian istilah “kesehatan” menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Akan sangat sulit membayangkan kesehatan organisasi apabila kita melihat organisasi sebagai suatu benda mati. Walaupun istilah ini sudah dipakai lama dan sudah menjadi standard dalam audit resmi terhadap suatu organisasi misalnya.
Mari kita lihat beberapa contoh sederhana yang cukup baik untuk membimbing kita mencari pengertian yang tajam mengenai kesehatan suatu organisasi.
Sirkulasi darah dalam tubuh
Dalam tubuh makhluk hidup, salah satu indikator utama dalam menilai tingkat kesehatannya adalah dengan melihat tekanan darah dan kadar oksigen (Hb)dalam darah di seluruh bagian tubuh. Apabila tekanannya normal dan Hb dalam kadar yang baik, maka hampir dipastikan bahwa tubuh hidup tersebut sehat.
Analogi ke organisasi dapat ditarik sangan jelas. Lihatlah darah sebagai informasi, apabila arus informasi lancar, baik dari puncak maupun dari bagian bawah organisasi, maka sangat organisasi dapat dipastikan sehat. Bayangkan suatu organisasi dimana visi dan rencana-rencana top management dapat mengalir dengan lancar dan cepat ke seluruh bagian. Kemudian problem, keluhan dan ekspresi setiap bagian dapat naik ke atas dengan cepat dan lengkap, persis seperti darah bersih dipompakan dari jantung, dan seluruh darah kotor dialirkan dan ditampung untuk dibersihkan dijantung, dan seterusnya berputar dalam sirkulasi yang sempurna.
Namun disinilah tantangannya. Tuhan memang terlalu sempurna untuk disaingi oleh CEO paling brilian di bumi ini sekalipun. Sirkulasi darah dalam tubuh makhluk hidup terlalu sempurna untuk dapat ditiru oleh sistem sirkulasi informasi dalam suatu organisasi. Tapi paling tidak hal ini dapat dijadikan suatu model yang dapat dijadikan acuan dalam mengembangkannya.
Bagian-bagian tubuh tertentu yang tidak cukup mendapat darah akan mengganggu fungsi bagian tersebut. Gejala kepala pusing, kaki atau tangan yang membiru adalah tanda dimana bagian tersebut kurang mendapat cukup darah segar. Tekanan yang terlalu tinggi pada ejakulasi misalnya, adalah contoh lain dimana kelainan pada sirkulasi darah dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
Dengan segala cara, saat ini setiap organisasi berusaha sekuat tenaga untuk dapat mendistribusikan informasi secepat dan semerata mungkin. Teknologi informasi (TI) adalah jawaban ilmuwan yang terus berkembang pesat untuk kebutuhan yang satu ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa organisasi yang mampu mengadaptasikan TI secara cepat dan bijaksana biasanya relatif lebih “sehat”.
Namun jangan dilupakan bahwa media elektronis yang disediakan oleh TI tetap tidak bisa meninggalkan norma-norma tradisional berkomunikasi antar-orang. Karena informasi adalah usaha mengantarkan pesan-pesan antar-orang, maka dipastikan bahwa norma tadi harus juga terus dikembangkan, apabila tidak, maka keinginan untuk mendistribusikannya seperti darah diatas akan sulit terwujud.
Menurut Riggs (1966) ukuran kinerja birokrasi, bukan hanya kinerja perorangan (personal perfomance) atau suatu unit, tetapi juga yang diukur adalah kinerja organisasi (social perfomance). Ada dua aspek penting dalam pengukuran kinerja menurut Riggs, yaitu aspek efektivitas dan efisiensi. Efektivitas berkaitan seberapa jauh sasaran telah dapat dicapai, dan efisiensi menunjukkan bagaimana mencapainya, yakni dibanding dengan usaha, biaya atau pengorbanan yang harus dikeluarkan.
Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran. Dengan perkataan lain efektivitas adalah hasil guna yang dicapai oleh organisasi untuk mencapai sasaran atau tujuannya. Jadi, makna efektivitas memiliki konsep yang lebih luas dari pada konsep efisiensi. Efektivitas dapat berkaitan dengan variabel internal dan juga berkaitan dengan variabel eksternal organisasi. Sedangkan efisiensi hanya berkaitan dengan proses internal organisasi, yaitu perbandingan yang rasional atau terbaik antara Input dengan Output.
Efisiensi berkaitan dengan pencapaian Output. Sedangkan Output diakibatkan dari Input. Dengan demikian efisiensi adalah perbandingan terbaik antara hasil Output yang diperoleh dan kegiatan yang dilakukan serta sumber-sumber atau input yang dipergunakan dalam sumber-sumber tersebut tercakup tenaga kerja, biaya, material, alat-alat kerja, waktu dan sebagainya.
William M. Evan (dalam Martani), mengukur kinerja organisasi dengan menggunakan pendekatan proses, yaitu menghitung efisiensi, yaitu menghitung besarnya ongkos untuk pengadaan input (I), menghitung ongkos transformasi (T) serta menghitung nilai output (O) ketiga variabel ini dapat dikombinasikan untuk mengukur berbagai aspek tentang kinerja organisasi. Cara yang paling sering yang digunakan untuk mengukur efisiensi adalah dengan menggunakan rasio O/ I. Bagi Dinas Keberhasilan Rasio ini dapat diartikan Tingkat biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut sampah M3/ hari perbulan. Dari perbandingan rasio tersebut dapat diketahui tingkat efisiensi Puskesmas dalam melaksanakan tugasnya.
Kondisi kesehatan organisasi, dilihat dari sudut pandang sasaran output merupakan proses, bukan hasil atau kinerja yang dihasilkan oleh organisasi. Akan tetapi dari sasaran sistem, adalah merupakan output dari proses itu sendiri. Dengan kata lain organisasi yang sehat merupakan output dari sasaran sistem, dimana organisasi mampu menciptakan suasana yang harmonis antara semua unsur yang terlibat dalam proses organisasi.
Kinerja organisasi yang sehat menurut Martani dicirikan oleh tingginya perhatian atasan terhadap bawahan, semangat, loyalitas dan kerjasama yang sangat dinamis, saling percaya dan komunikasi antara pegawai dengan pimpinan, tingginya otonomi dan desentralisasi dalam pengambilan keputusan, tumbuhnya komunikasi vertikal dan horisontal yang lancar dalam organisasi dan organisasi memiliki sistem imbalan yang merangsang setiap individu / kelompok berprestasi.
Thanks to read : Write by Krist@2013
—————————————————————————————


Adalah semua minuman yang mengandung Alkohol tetapi bukan obat.
Adalah obat yang bersifat adiktif, sama seperti Kokain dan Heroin. Bentuk nikotin yang paling umum adalah tembakau, yang dihisap dalam bentuk rokok, cerutu, dan pipa. Tembakau juga dapat digunakan sebagai tembakau sedotan dan dikunyah (tembakau tanpa asap).
Volatile Solvent
Zat Desainer adalah zat-zat yang dibuat oleh ahli obat jalanan. MEreka membuat obat-obat itu secara rahasia karena dilarang oleh pemerintah. Obat-obat itu dibuat tanpa memperhatikan kesehatan. Mereka hanya memikirkan uang dan secara sengaja membiarkan para pembelinya kecanduan dan menderita. Zat-zat ini banyak yang sudah beredar dengan nama speed ball, Peace pills, crystal, angel dust rocket fuel dan lain-lain.
Komentar Terakhir