CUCI TANGAN DAN FAKTA KESEHATAN


73782275Cuci tangan menggunakan sabun merupakan upaya pencegahan efektif dari    kondisi  Pandemis, misalnya SARR dan Flu.

Cuci tangan menggunakan sabun dapat mengurangi kejadian ISPA hingga 23%

Cuci tangan menggunakan sabun mencegah diare, penyakit kulit, infeksi mata  dan  kecacingan

Di beberapa daerah,diare mungkin bukan merupakan hal yang serius, namun di  beberapa  negara diare menyebabkan kematian,

Penelitian menunjukkan bahwa mencuci tangan menggunakan sabun di sekolah dan tempat penitipan anak dapat mengurangi angka diare hingga 30%,

Cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan atau menyiapkan masakan dapat mengurangi resiko diare hingga 45%,

Gunakan sabun ! Penelitian di negara inggris ini terhadap kebiasaan mencuci tangan hanya dengan air saja menunjukkan bahwa 23% orang masih memiliki bakteri feses di tangannya,

Kebanyakan kuman penyebab diare berpindah dari kotoran ke mulut ! (melalui tangan yang tidak bersih) oleh karena itu cucilah tangan dengan Sabun.

Salam Sehat,

Categories: Artikel Kesehatan, Promosi Kesehatan | Tags: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Deklarasi Jakarta 2013


Dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan masyarakat dewasa ini dan di masa depan, antara lain meningkatnya prevalensi penyakit akibat faktor perilaku, lingkungan dan determinan sosial.

Kami segenap peserta Konferensi Nasional Promosi Kesehatan ke-6 Tahun 2013, yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok profesi, organisasi kemasyarakatan, swasta dan masyarakat, sepakat untuk :

1. Memantapkan upaya promotif-preventif dalam penerapan Jaminan Kesehatan Nasional sebagai bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional.

2. Memperkuat komitmen dan dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam implementasi upaya promotif-preventif sebagai solusi masalah kesehatan masyarakat.

3. Memperkuat kapasitas promotif-preventif di pusat dan daerah yang mencakup aspek : regulasi, kelembagaan dan manajemen, ketenagaan, pendanaan dan sarana prasarana.

4. Memperkuat keterlibatan individu, keluarga, masyarakat termasuk organisasi kemasyarakatan dan swasta dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pengendalian faktor risiko penyakit dan faktor risiko lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan.

5. Meningkatkan sinergisme multisektor dalam pembangunan berwawasan kesehatan.

6. Menguatkan peran dan kapasitas organisasi profesi kesehatan dalam mendukung upaya promotif-preventif dalam pembangunan kesehatan.

 

Jakarta, 14 November 2013 Peserta Konferensi Nasional Promosi Kesehatan ke-6.

http://www.promkes.depkes.go.id/

Categories: Artikel Kesehatan, Promosi Kesehatan | Tinggalkan komentar

Efisiensi, Efektivitas dan Kesehatan Organisasi Birokrasi


Kalau anda pernah baca buku berjudul Images of Organization, tulisan Gareth Morgan, saya yakin bahwa anda akan mempunyai paradigma lain dalam melihat organisasi, tidak hanya sebagai struktur kotak-kotak dengan garis lapor dan garis perintah saja.

Begitu uniknya buku ini, sehingga akan saya pakai sebagai acuan dalam tulisan-tulisan Wacana SDM berikutnya.

Dalam salah satu metafor mengenai organisasi yang dikemukakan Morgan dalam buku tersebut adalah melihat organisasi sebagai organisme/makhluk hidup. Lengkap dengan kelahiran, pertumbuhan, adaptasi dan kematiannya, dan kemudian saya menambahkan bagaimana refleks dan intuisi makhluk hidup juga berlaku pada suatu organisasi.

Karena itulah kemudian istilah “kesehatan” menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Akan sangat sulit membayangkan kesehatan organisasi apabila kita melihat organisasi sebagai suatu benda mati. Walaupun istilah ini sudah dipakai lama dan sudah menjadi standard dalam audit resmi terhadap suatu organisasi misalnya.

Mari kita lihat beberapa contoh sederhana yang cukup baik untuk membimbing kita mencari pengertian yang tajam mengenai kesehatan suatu organisasi.

 

Sirkulasi darah dalam tubuh

Dalam tubuh makhluk hidup, salah satu indikator utama dalam menilai tingkat kesehatannya adalah dengan melihat tekanan darah dan kadar oksigen (Hb)dalam darah di seluruh bagian tubuh. Apabila tekanannya normal dan Hb dalam kadar yang baik, maka hampir dipastikan bahwa tubuh hidup tersebut sehat.

Analogi ke organisasi dapat ditarik sangan jelas. Lihatlah darah sebagai informasi, apabila arus informasi lancar, baik dari puncak maupun dari bagian bawah organisasi, maka sangat organisasi dapat dipastikan sehat. Bayangkan suatu organisasi dimana visi dan rencana-rencana top management dapat mengalir dengan lancar dan cepat ke seluruh bagian. Kemudian problem, keluhan dan ekspresi setiap bagian dapat naik ke atas dengan cepat dan lengkap, persis seperti darah bersih dipompakan dari jantung, dan seluruh darah kotor dialirkan dan ditampung untuk dibersihkan dijantung, dan seterusnya berputar dalam sirkulasi yang sempurna.

Namun disinilah tantangannya. Tuhan memang terlalu sempurna untuk disaingi oleh CEO paling brilian di bumi ini sekalipun. Sirkulasi darah dalam tubuh makhluk hidup terlalu sempurna untuk dapat ditiru oleh sistem sirkulasi informasi dalam suatu organisasi. Tapi paling tidak hal ini dapat dijadikan suatu model yang dapat dijadikan acuan dalam mengembangkannya.

Bagian-bagian tubuh tertentu yang tidak cukup mendapat darah akan mengganggu fungsi bagian tersebut. Gejala kepala pusing, kaki atau tangan yang membiru adalah tanda dimana bagian tersebut kurang mendapat cukup darah segar. Tekanan yang terlalu tinggi pada ejakulasi misalnya, adalah contoh lain dimana kelainan pada sirkulasi darah dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.

Dengan segala cara, saat ini setiap organisasi berusaha sekuat tenaga untuk dapat mendistribusikan informasi secepat dan semerata mungkin. Teknologi informasi (TI) adalah jawaban ilmuwan yang terus berkembang pesat untuk kebutuhan yang satu ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa organisasi yang mampu mengadaptasikan TI secara cepat dan bijaksana biasanya relatif lebih “sehat”.

Namun jangan dilupakan bahwa media elektronis yang disediakan oleh TI tetap tidak bisa meninggalkan norma-norma tradisional berkomunikasi antar-orang. Karena informasi adalah usaha mengantarkan pesan-pesan antar-orang, maka dipastikan bahwa norma tadi harus juga terus dikembangkan, apabila tidak, maka keinginan untuk mendistribusikannya seperti darah diatas akan sulit terwujud.

 

Menurut Riggs (1966) ukuran kinerja birokrasi, bukan hanya kinerja perorangan (personal perfomance) atau suatu unit, tetapi juga yang diukur adalah kinerja organisasi (social perfomance). Ada dua aspek penting dalam pengukuran kinerja menurut Riggs, yaitu aspek efektivitas dan efisiensi. Efektivitas berkaitan seberapa jauh sasaran telah dapat dicapai, dan efisiensi menunjukkan bagaimana mencapainya, yakni dibanding dengan usaha, biaya atau pengorbanan yang harus dikeluarkan.

Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran. Dengan perkataan lain efektivitas adalah hasil guna yang dicapai oleh organisasi untuk mencapai sasaran atau tujuannya. Jadi, makna efektivitas memiliki konsep yang lebih luas dari pada konsep efisiensi. Efektivitas dapat berkaitan dengan variabel internal dan juga berkaitan dengan variabel eksternal organisasi. Sedangkan efisiensi hanya berkaitan dengan proses internal organisasi, yaitu perbandingan yang rasional atau terbaik antara Input dengan Output.

Efisiensi berkaitan dengan pencapaian Output. Sedangkan Output diakibatkan dari Input. Dengan demikian efisiensi adalah perbandingan terbaik antara hasil Output yang diperoleh dan kegiatan yang dilakukan serta sumber-sumber atau input yang dipergunakan dalam sumber-sumber tersebut tercakup tenaga kerja, biaya, material, alat-alat kerja, waktu dan sebagainya.

William M. Evan (dalam Martani), mengukur kinerja organisasi dengan menggunakan pendekatan proses, yaitu menghitung efisiensi, yaitu menghitung besarnya ongkos untuk pengadaan input (I), menghitung ongkos transformasi (T) serta menghitung nilai output (O) ketiga variabel ini dapat dikombinasikan untuk mengukur berbagai aspek tentang kinerja organisasi. Cara yang paling sering yang digunakan untuk mengukur efisiensi adalah dengan menggunakan rasio O/ I. Bagi Dinas Keberhasilan Rasio ini dapat diartikan Tingkat biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut sampah M3/ hari perbulan. Dari perbandingan rasio tersebut dapat diketahui tingkat efisiensi Puskesmas dalam melaksanakan tugasnya.

Kondisi kesehatan organisasi, dilihat dari sudut pandang sasaran output merupakan proses, bukan hasil atau kinerja yang dihasilkan oleh organisasi. Akan tetapi dari sasaran sistem, adalah merupakan output dari proses itu sendiri. Dengan kata lain organisasi yang sehat merupakan output dari sasaran sistem, dimana organisasi mampu menciptakan suasana yang harmonis antara semua unsur yang terlibat dalam proses organisasi.

Kinerja organisasi yang sehat menurut Martani dicirikan oleh tingginya perhatian atasan terhadap bawahan, semangat, loyalitas dan kerjasama yang sangat dinamis, saling percaya dan komunikasi antara pegawai dengan pimpinan, tingginya otonomi dan desentralisasi dalam pengambilan keputusan, tumbuhnya komunikasi vertikal dan horisontal yang lancar dalam organisasi dan organisasi memiliki sistem imbalan yang merangsang setiap individu / kelompok berprestasi.

 

Thanks to read : Write by Krist@2013 

Health and Educational Promotion Program in CHC of Batu Putih, East Borneo, Indonesia. 
Kristiansen@2013.  Mail To;  bajaumundu@yahoo.com
Keep your Life Safely and Improve your Healthy knowledges.
All file are for the sole use of the intended recipient(s) and may contain confidential and privileged information. Any unauthorized review, use, modify, disclosure or distribution except for healthy information as reason are prohibited. If you are not the intended to read this  file, please contact the sender by email (bajaumundu@yahoo.com) or phone and destroy all copies of the original viewed. Thank you.

—————————————————————————————

 

Categories: Umum | Tinggalkan komentar

Pengobatan Pada Pusat Rehabilitasi dan Daftar Pusat Rehabilitasi Narkoba


AOD-BP

PENGOBATAN PADA RUMAH REHABILITASI

  1. TAHAP I: DETOKSIFIKASI

    Detoksifikasi merupakan satu cara untuk menghilangkan racun-racun obat dari tubuh si penderita kecanduan NARKOBA. Proses ini dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

    1. Cold Turkey (abrupt withdrawal) yaitu proses penghentian pemakaian Narkoba secara tiba-tiba tanpa disertai dengan substitusi antidotum.
    2. Bertahap atau substitusi bertahap, misalnya dengan Kodein, Methadone, CPZ, atau Clocaril yang dilakukan secara tapp off (bertaha) selama 1 – 2 minggu.
    3. Rapid Detoxification: dilakukan dengan anestesi umum (6 – 12 jam).
    4. Simtomatik: tergantung gejala yang dirasakan.
  2. TAHAP II: DETEKSI SEKUNDER INFEKSI

    Pada tahap ini, biasanya kita melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan tes penunjang yang lain untuk mendeteksi penyakit atau kelainan yang menyertai para pecandu Narkoba. Contohnya, Hepatitis (B/C/D), AIDS, TBC, JAMUR, sexual transmitted disease (Sifhilis, GO, dll).

    Jika dalam pemeriksaan ditemukan penyakit di atas, biasanya kita langsung melakukan pengobatan medis sebelum pasien dikirim ke rumah rehabilitasi medis. Hal ini perlu untuk mencegah untuk mencegah terjadinya penularan penyakit pada para penderita yang lain atau tenaga kesehatan.

  3. TAHAP III: REHABILITASI

    Prinsip perawatan di setiap rumah rehabilitasi medis yang ada di Indonesia sangat beragam. Ada yang menekankan pengobatan hanya pada prinsip medis, ada pula yang lebih menekankan pada prinsip rohani. Atau, prinsip pengobatan dengan cara memadukan kedua pendekatan tersebut dalam komposisi yang seimbang.

    Pengobatan rawat inap ini biasanya dilakukan selama 3 bulan sampai dengan 1 atau 2 tahun, sedangkan biaya per orang kurang lebih Rp3 juta sampai Rp8 juta per bulan.

  4. TAHAP IV: PURNARAWAT (AFTERCARE)

    Sebelum kembali ke masyarakat, para penderita yang baru sembuh akan ditampung di sebuah lingkungan khusus (sektor swasta, jurnalis, kelompok agama, LSM, dll) selama beberapa waktu tertentu sampai pasien siap secara mental dan rohani kembali ke lingkungannya semula. Hal ini terjadi karena sebagian besar para penderita umumnya putus sekolah dan tidak mempunyai kemampuan intelejensia yang memadai. Akibatnya, banyak di antara mereka menjadi rendah diri setelah keluar dari rumah rehabilitasi.

    Lamanya proses aftercare dapat bervariasi, biasanya dilakukan antara 3 bulan sampai 1 tahun. Dari keempat tahap pengobatan, aftercare merupakan tahap yang terpenting dan sangat menentukan untuk mencegah si penderita kembali ke lingkungannya yang semula.

    Sejujurnya, berdasarkan data statistik, tingkat keberhasilan dalam penanganan kasus ketergantungan Narkoba secara medis tidak optimal (hanya 15-20%). Mengapa demikian? Apakah pendekatan medis belum cukup mampu untuk mengatasi hal ini? Mungkinkah ada alternatif lain yang bisa diterapkan di dalam prinsip pengobatan agar hasilnya lebih optimal?

RUJUKAN LEMBAGA UNTUK MASALAH NARKOBA

No Nama Lembaga Alamat Telp./Fax/e-mail
01 RS. Ketergantungan Jl.RS. Fatmawati, Kompleks RS. Fatmawati
Jakarta selatan
7655461, 7698240, 7504009
02 RS. Angkatan Laut Mintohardjo Jl. Bendungan Hilir
Jakarta Pusat
5703081, 5702036
03 RS Darmawangsa Jl. Darmawangsa Raya No.1, Blok P-2
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
7394484
04 RS. Ongkomulyo Jl. Pulomas Barat VI
Jakarta Timur 13210
4723332
05 Bagian Psikiatri FKUI/ RSUPN-CM Jl. Salemba Raya no.6
Jakarta Pusat
330371, 330373
06 Bagian IGD dan bagian Kerohanian R.S. PGI Cikini JL. Raden Saleh no.40
Jakarta 13210
336019
07 Parmadisiwi Jl. MT. Haryono No.11 Cawang
Jakarta Timur
8092713
08 Yayasan Titian Respati Jl. Hang Lekir II No.16
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
7394762, 7394769
09 Yayasan Insan Pengasih Indonesia Jl. Daksa IV No.69
Jakarta Selatan
7208216
10 Sistim Prof. Dadang Hawari Tebet Mas Indah E-5, Jl. Tebet Barat I
Jakarta Selatan
8298885
11 Yayasan Pelita Ilmu Jl. Kebon Baru IV No.16, Tebet
Jakarta Selatan 12820
83795480, 8311577
12 Lembaga Aksi Hidup Sehat Jl. Tebet Timur Dalam II C/9
Jakarta 12820
8295294
13 Wisma Adiksi Jl. Jati Indah I No.23, Pangkalan Jati -Pondok Labu
Jakarta 16514
7690455, 75404604
14 Yayasan Kasih Mulya Ruko Pantai Indah Kapuk
Jl. Camar Indah I Blok DD No.10
5881103
15 Yayasan Tiara Darma Seta Jl. Albaido I No. 30, Lubang Buaya
Jakarta 13810
8413117
16 Yayasan Gerbang Aksa Jl.H.Sangaji No.19, Jakarta 10130 6315544
17 BERSAMA Jl. Madiun No.34, Jakarta 10310 326330, 3924952
18 KerlipNAZA Jl. Tirtayasa Raya No.51, Jakarta 12160 7248049
19 Abdi Nusantara (0411) 8544223
20 Bangun Mitra Sejati Jl. Suci No.25 Susukan Cipayung – Jaktim 9236027, 8404159 (fax)
21 Dian Aksa Jl. Paal Batu III No.1 Casablanca Jaksel 12870 8297579
22 Dharma Kasih Ibu Jl. Villa Karina Komp. Cilember Jogjogan
Bogor, Jawa Barat
(0251) 252379
23 Doulos Jl. Kelapa Nias XI/15 Jaktim 8453548 (faks)
24 Drop In Centre Jl. Daksa IV No.69 Kebayoran Baru Jaksel 7227352
25 Gerbang Aksa Jl. AM Sangaji No.19 Jakarta 10130 632-6043 fax. 6315544
26 Getsemani Jl. Raya Pekayon No.30 Bekasi Barat 8218619, 8218621
27 Harapan Permata Hati Kita Jl. Dr Semeru 112, Bogor (0251)382052, (0251) 335875
28 Insan Pengasih Senayan Golf driving Range Jl. Pintu V
Gelora Senayan Jakarta Pusat 10270
5735416/18, 5735418 (fax)
29 Mitra Indonesia Jl. Kebon Kacang IX/78 Jakpus 3921608
30 Narcotic Ananymous Jl. Pekalongan I No. 18 Menteng Jakpus
31 Project Concern International Jl. Tirtayasa No.51 Kebayoran Baru Jaksel 7221136
32 Pakta Jl. KH Mahmud III No.8 Perdatam Pancoran, Jaksel 79195071, 79195071 (fax)
33 Kasih Mulia Ruko Pantai Indah Kapuk Jl. Camar Indah I blok DD No.10 5881103, 58822755 (fax)
34 PKBI DKI Jl. Rawa Selatan IV No.48 Johar Baru 42880266, 4214748 (fax)
35 Pondok Bina Kasih Jl. Jatinegara Timur II No.30C Jaktim 8575935, 85905410
36 Rs. Mitra Keluarga Jl. Raya Jatinegara Timur II Jatinegara 85-87 Jaktim 2800888
37 RSKO Jl. Rs. Fatmawati, Cilandak Jakarta Selatan 7695461, 7698240
38 Rs. Ongkomulyo Jl. Pulo Mas Barat VI Jaktim 4723332
39 Sarasvati Jl. Kedoya Duri Raya No.22 Kedoya Jakbar 5801209
40 Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat (0265) 445828
41 Spiritia Jl. Lauser No.3B Kebayoran Baru 7235236
42 The Futures Group Gedung Tifa Lt.2 Jl. Kuningan Barat No.26 Jakarta Selatan 5200596, 5221324 (fax)
43 World Health Organization UN Building Jl. MH Thamrin No.14 Jakarta 10350 4255334, 4264622 (fax)

:: Print This Document ::

Categories: Artikel Kesehatan, Promosi Kesehatan, Umum | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.