PROFESI KEPERAWATAN. ANTARA DILEMAH, PELECEHAN DAN HARAPAN.


Profesi keperawatan adalah profesi yang sangat mulia yang penuh dilema dan batasan-batasan yang terkadang karenanya batasan itu menjadi abu-abu diantara batasan hitam dan putih, karena itu perlu sebuah terobosan yang mengatur dan memperjelas batasan profesi kami ini.

1. Dunia Pertelevisian, Periklanan dan Perfilm-an Tentang Profesi Keperawatan Di Indonesia.

Pertelevisian seakan menjadi bagian hidup serta kebutuhan sehari-hari kita saat ini, mulai dari kota sampai ke pelosok di kecamatan bahkan di desa-desa diseluruh Indonesia dan penontonnya pun beragam mulai dari anak balita sampai lansia /Lanjut Usia. Konsumsi media visual ini tentu akan mempengaruhi pola fikir dan persepsi /stigma masyarakat yang beragam mengenai berbagai macam hal yang jika tidak di imbangi dengan konsumsi visual yang positif terhadap sebuah persepsi yang negative yang merupakan hasil dari tontonan/ visual dari produksi-produksi perfilman di Indonesia yang tentu akan berdampak sangat fatal pada perkembangan negara ini khususnya dunia keperawatan sebagai sebuah profesi yang sering dimunculkan di produksi-produksi perfilm-an dan periklanan dengan ketidaksesuaian peran dan kenyataan sebagaimana harapan kami sebagai perawat.
Dunia keperawatan seharusnya memandang hal ini sebagai suatu masalah jika produk-produk visual pertelevisian khususnya sinetron dan perfilm-an bahkan di iklan-iklan yang berisikan adanya pelecehan profesi keperawatan itu terjadi. LALU APA YANG KITA LAKUKAN SEBAGAI SEORANG PERAWAT YANG NOTABENE PROFESI KITA SERING MENJADI OLOK-OLOKAN YANG TANPA KITA SADARI MENGUCILKAN PROFESI KITA.

Pernahkah kita berfikir bahwa hal seperti itu akan membentuk persepsi dan opini masyarakat yang negative mengenai dunia keperawatan, bahwa perawat itu tidak lebih dari sekedar babu / pembantu atau bahkan perawat itu bisa di caci maki, dibentak-bentak keluarga pasien dan dimarahi seorang dokter didepan pasien yang ditonton jutaan masyarakat Indonesia.
Tidakkah hal ini sangat menyedihkan dan sangat memilukan kita, melihat profesi kita (perawat) menjadi bulan-bulanan di dunia pertelevisian khususnya sinetron, iklan dan film-film layar lebar beberapa film yang menyudutkan profesi perawat seperti “Suster ngesot”, “Suster Keramas” dan masih banyak lagi dan ada pula iklan cokelat “Tim-Tam” dimana seorang perawat makan coklat karena saking enaknya si coklat tadi perawat tersebut lupa dengan si pasien yang ada di korsi roda sampai akhirnya terjatuh. melihat hal ini di Indonesia seakan tidak ada peraturan yang mengatur pertelevisian /media visual tersebut sehingga membentuk opini masyarakat yang negative bahkan menjadikan perawat sebagai olok-olokan dari profesi lain.
Kita juga sering sekali disuguhkan sinetron-sinetron yang menggunakan atribut perawat dipakai dan diperankan dengan peran antagonis bahkan dimainkan oleh orang yang sama sekali tidak mengerti apa itu dunia keperawatan, sehingga sering sekali di caci maki, diomeli bahkan diberi ancaman atau di pukuli baik oleh keluarga pasien, bahkan si pasien sendiri atau oleh si “dokter”. Sehingga si pemeran diam saja karena selain tuntutan peran dia sendiri tidak tahu apa yang dia perankan, karena merasa profesi dia merupakan profesi yang dipandang sebelah mata dan tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.
Lalu dimana peran dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) pusat, apa tidak ada yang mengatur mengenai dunia perfilman mengenai pelecehan profesi seperti hal ini.

2. Menjamurnya Akper-Akper Swasta dan Stikes-Stikes Serta Program Pendidikan Perawat di Berbagai Daerah.

Dunia Pendidikan Keperawatan, STIKES, AKPER, POLTEKKES dan FAKULTAS KEPERAWATAN di berbagai perguruan tinggi sebagai penghasil produk-produk Perawat di Indonesia haruslah mempunyai pertimbangan logis dan akademis dengan memperhatikan kualitas lulusan yang mampu bersaing dengan perawat-perawat dari luar negeri seperti Filipina, Thailand, Jepang, Cina dan Taiwan yang merupakan penyuplai tenaga keperawatan di dunia, sebuah contoh Negara Filipina menyuplai tenaga perawat yang dikoordinir oleh negaranya dan dipantau keberadaannya sehingga betul-betul diperhatikan kualitas Pengetahuan, bahasa dan Skill-nya sehingga bisa bekerja dinegara manapun yang membutuhkan pelayanan keperawatan karena mempunyai asosiasi/ persatuan serta perlindungan yang kuat dari negaranya serta memiliki MOU yang jelas dengan Negara lain mengenai distribusi tenaga perawat ke Luar Negeri.
Kami didaerah sangat berharap ada peran besar dari rekan-rekan sejawat PPNI di Tingkat Kabupaten, Provinsi dan Pusat di Jakarta, karena sekarang kita melihat rendahnya kualitas perawat dan banyaknya kampus-kampus keperawatan yang menjamur dengan kualitas pendidikan dan skill yang tidak diketahui pasti dan tidak terakreditasi sehingga kedepan akan menjadi beban profesi keperawatan itu sendiri…!!!
Saat ini kita bisa menghitung khususnya di Kal-Tim saja berapa banyak lulusan Poltekkes, akper-akper/Stikes swasta, lalu yang menjadi pertanyaan kita sebagai seorang perawat yang yang sudah ada saat ini bertanya-tanya; lulusannya setiap tahun seperti apa, bagaimana kualitasnya, kemana mereka akan bekerja dan berapa banyak yang sudah terserap dunia kerja….!!! Walaupun data secara nasional menyebutkan bahwa Indonesia masih kekurangan perawat dengan hitung-hitungan dan perbandingan yang sedemikian rupa tetapi hingga saat ini sulitnya pemerataan serta kebanyakan perawat ingin bertugas dan mencari kerja di kota-kota menjadi kendala yang besar bagi pemerataan tenaga keperawatan, apalagi saat ini telah berlaku moratorium PNS sehingga penyerapan tenaga kerja bagi pemerintah khususnya perawat akan terhenti sampai moratorium itu dicabut sehingga persaingan untuk menjadi pegawai negeri pun akan menjadi sulit, walaupun kita akui selama masih ada manusia maka akan ada kebutuhan akan perawatan, tetapi tidak serta merta hal ini menjadi patokan dan tolak ukur kita untuk memperbanyak Jumlah /Kuantitas tanpa mengetahui Kualitas yang dihasilkan.
Kita Harus Akui dan semua orang pun mengakui bahwa Profesi Keperawatan adalah Profesi Terbesar dan Terbanyak Jumlahnya di dunia Kesehatan di Indonesia, Lalu Pertanyaan Kita adalah, apa kita hanya menang dalam jumlah tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Hal ini menjadi tugas PPNI baik di pusat dan daerah sebagai sebuah organisasi yang besar di dunia kesehatan, PPNI harus lebih kokoh, wibawa sebagai sebuah organisasi  dan dikenal dan mempunyai Power dalam membatasi berdirinya kampus-kampus yang mungkin hanya memikirkan keuntungan belaka tanpa memikirkan kualitas lulusan dan akan kemana mereka setelah lulus nanti, walaupun memang mungkin DepKes pada awalnya tidak mengeluarkan ijin berdirinya sebuah Kampus, Tapi DikTi /Pendidikan Tinggi yang mengeluarkan Ijin tentu didalamnya harus ada Peran PPNI yang menganalisa dampak berdirinya sebuah kampus keperawatan, bahkan yang memilukan lagi saat ini berdiri pula Sekolah Menengah Kejuruan Perawat (SMK Perawat) bagus memang jika hal ini menjadikan sebuah fokus keprofesian terhadap profesi keperawatan untuk mengarah ke jenjang yang lebih tinggi akan tetapi lulus dari SMK langsung cari kerja dan ruamh sakit swasta dan perusahaan-persuahaan kecil pun menerima mereka sebagai tenaga kesehatan dilingkungannya, sehingga apa bedanya dengan pendidikan di Tingkat SPK, akhirnya menjadi pekerjaan Rumah Tangga lagi Bagi PPNI dan yang akhirnya lagi-lagi karena pendidikan yang rendah jadinya bayarannya pun rendah, kemudian kemitraan dengan profesi kesehatan lainnya yang sudah digembar-gemborkan oleh profesi keperawatan itu sendiri pun menjadi gagal, karena dari segi Ilmu Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan saja tidak ada kesetaraan sehingga kembali lagi perawat menjadi babu/ pembantunya profesi kesehatan lainnya, apalagi saat ini lagi heboh atau menjadi trend mengenai dunia SMK (EsEmKa), hal ini yang perlu kita antisipasi yang mungkin bisa berdampak di dunia keperawatan, Sehingga menjamur lagi SMK Keperawatan dimana-mana yang akhirnya kita bukannya makin maju tetapi malah mundur lagi ke jaman batu.
Disini pula diharapkan peran rekan-rekan profesi keperawatan yang berkecimpung di dunia keperawatan di kampus-kampus sebagai akademisi /kampus-kampus yang mecetak perawat-perawat tidak hanya sekedar memikirkan keuntungan atau segi komersiil-nya saja dari pendidikan itu sendiri tetapi bagaimana lulusan yang dia hasilkan bisa terserap secara maksimal di dunia kerja, sehingga kedepannya memikirkan kemungkinan kerjasama antara kampus dengan negara-negara lain mengenai pendistribusian tenaga kerja perawat yang berkualitas ke luar negeri yang di fasilitasi oleh negara, walaupun saat ini mungkin sudah ada beberapa kampus menjalin kerjasama tetapi gereget itu tidak terasa sampai di daerah-daerah di tingkat kabupaten. Tentu untuk mencapai hal itu kualitas pendidikan dan pengetahuan perawat harus dibarengi dengan kemampuan berbahasa asing yang baik.
Jika kita melihat hukum ekonomi dan sudah pasti juga berlaku untuk profesi keperawatan yang saat ini terjadi bahwa “Semakin banyak barang dipasaran, akan membuat nilai jual Barang tersebut menjadi sangat rendah” artinya apa, semakin banyak lulusan perawat yang tidak terserap dunia kerja, itu akan menurunkan nilai jual profesi itu sendiri, mengapa demikian….??? Karena semua orang butuh makan sehingga kerja apapun, dibayar /digaji berapapun dia pasti mau,,, tidak sedikit perawat yang kerja dirumah sakit bahkan rela untuk magang demi selembar kertas yang berisikan pernyataan bahwa dia punya pengalaman kerja dan saat magang disitupun dia tidak di bayar sama sekali… sungguh miris dunia keperawatan saat ini.

3. PPNI Pusat dan Daerah, Koordinasi dan Informasi Penting Bagi Kami.

Pentingnya dilakukan pertemuan-pertemuan mengenai program-program organisasi PPNI di tingkat kabupaten dan di kecamatan merupakan sebuah harapan bagi kami, agar adanya silaturrahmi, sinkronisasi, dan evaluasi secara bersama-sama dan masukan-masukan dari rekan-rekan sejawat yang ada di pelosok kampung bisa tersalurkan kepada rekan-rekan di tingkat kabupaten dan provinsi minimal 1 tahun sekali, kemudian dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai bakti sosial dan kemasyarakatan sebagai wujud bakti profesi keperawatan terhadap masyarakat yang bisa dilihat langsung hasil dari kegiatan tersebut dan manfaatnya bagi masyarakat sehingga organisasi kita bisa lebih dikenal di dalam masyarakat.
Satu Hal lagi mengenai pengorganisasian, sering sekali pada acara pembukaan pada pertemuan-pertemuan di tingkat kabupaten dan kecamatan kita melupakan hal yang seharusnya menjadi kebanggan dan Penghayatan bagi kita semua yaitu menyanyikan lagu Mars Perawat Nasional Indonesia dan Hymne Perawat Nasional Indonesia. dengan urutan pertama menyanyikan lagu Indonesia raya, kemudian Lagu Mars perawat dan selanjutnya Hymne perawat Indonesia, kemudian acara pembukaan baru dimulai.
Bahkan sangat banyak dari rekan-rekan perawat sendiri tidak pernah mendengar apalagi menyanyikan dua lagu tersebut (Mars dan Hymne Perawat), sehingga kejiwaan dan penghayatan akan sebuah profesi keperawatan yang dia geluti menjadi sangat kurang sekali.

4. Sahkan Undang-Undang Keperawatan.

Kami di daerah bahkan dipelosok seperti ini, sangat-sangat bergantung kepada rekan-rekan sejawat yang ada di kabupaten, provinsi dan di Pusat yang setiap saat, setiap hari dan setiap waktu kami bekerja dengan rasa was-was akan bahaya dan tuntutan hukum yang siap menjerat kami Sebagaimana tersebut pada UU Kesehatan No 23 Tahun 1992 (Pasal 15, ayat 1 dan 2, Pasal 32 ayat 4, pasal 36 ayat 10, pasal 63 ayat 1 dan pasal 80 ayat 1) dan UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 (Pasal 98, 108, 196,197 dan 199) sebagai perawat dilingkungan masyarakat kamipun melakukan tugas sesuai profesi kami sebatas melakukan perawatan dan melakukan pengobatan berdasarkan SOP yang kami buat dan disepakati dengan Penanggung jawab medis diwilayah kerja kami, karena lemahnya perlindungan hukum terhadap profesi keperawatan, tetapi di lain pihak tuntutan dan harapan masyarakat akan dedikasi dan pelayanan kami secara maksimal sangat dibutuhkan, yang tanpa mengenal waktu dan kondisi apapun kami selalu siap melayani masyarakat desa dan kampung di level-level terendah dengan kemampuan ekonomi masyarakat yang sangat minim sehingga sangat tidak mungkin untuk meraih keuntungan dari pertolongan yang kami berikan.
Bahkan banyak perawat ber-praktik alah “dokter” jadi “maling”= Mantri Keliling, mutar sana-mutar sini keliling kampung tanpa mengetahui adanya bahaya hukum yang siap menerkam dan menjaring karena ketidaktahuan mereka yang tentu karena peraturan itu akhirnya sejawat kami di daerah lain menjadi korban dari peraturan perundang-undangan itu sendiri.

AYO DUKUNG PENGESAHAN UU KEPERAWATAN.
BERSAMA KITA BISAAAA.

Terima Kasih dan Salam Sehat Selalu,

Categories: Umum | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: